Minggu, 18 Desember 2016

Reading Habit for Civilized Society



"According to data from the Organization for Ecocomic Co-operation and Development (OECD), the reading culture of Indonesian society is the lowest rank among 52 countries in Asia. In 2012 Unesco reported that a child has an ability to spent 25 books in a year, while Indonesia reached the lowest point: 0 percent. It means, from 1,000 Indonesian children, only one is able to spend one book in a year. This is a substansial issue, this critical case. The roblem of interest in reading probably is not as significant as about energy or food. But how to prepare the country's future if the literacy rate of the society is so low?"  Said Najwa Shihab in Kompas Daily, August 18, 2016 coincided with the international literacy day.
Without us knowing our country was ranked the lowest in reading and writing. This is not a trivial issue considering a country can be seen whether developed or developing from the interest of literacy. If the easiest things such as read only still low, how to improve the country itself? If people are lazy to read how to improve governance itself? If society is more fun to play gadget and shopping branded goods rather than read a book, how to fix the country's economy itself?
Reading did not make that hunger be satisfied, but more than that reading a book can add insight to someone how to address economic problems such as poverty so he/she can fix it in a real life with the ways written in the book.
Perhaps, one of causes of the low reading habits in our country is the mindset of people who think that reading is not important. Better work hard to make money rather than sit comfortably while reading a book. Yes, this mindset is casual glance. But of course it's not as casually like that.
We are familiar with Soekarno, BJ. Habibie, Gus Dur, Quraish Shihab, and other great figures who live in our country. They are the ones who appreciate science. Give them a book they love. They’re reading so many books so they can be a great figures be like. So we are? Only ordinary people how dare to say that reading is not important? Don’t we look arrogant to say such a thing?
The first revelation which Allah revealed through the angel Gabriel to His Messenger Muhammad is 'Iqra' which means 'read'. This one word is a verb without a subject or object before and after. Thus, in the Arabic language itself it refers to the command line. Why is the first verse revealed not the word 'worship' or 'go pray' maybe? Of course, God sent down His verses with the word 'Read!' Is not without reason.
Actually reading habit is an early foundation for creating a civilized men and faithful. Civilized men means society who have an intelligent mindset, knows the value and meaning, can distinguish between which is the true and false one, and make anything useful to the people and environment around them. And faith means believing what is not visible to the eye. The climax of faith of civilized man is when he realized that he was created by The Great One, when he realized there is something greater than him and it’s the Highest one, it is God.
The reading habit actually can not be enforced for granted especially to the adults. But it is not mean impossible to do. Never too late to learn and so something goodness. And for parents should be better to introduce books to children from an early age, so that the children will get used to read later.
Speak means cultured. Cultured means it has civilization. Great civilizations are formed because of a strong culture. A strong culture reflects the intelligent human being. Intelligent in science, social, education, economy, and religion. And all of them will happen if the people have a high interest in reading.


Cerpen: SURGA DUNIA



Kulihat jam tangan dengan latar bergambar peta dunia kesayanganku. Pukul tujuh lewat tiga puluh satu menit. Hei, bukankah acara seharusnya sudah dimulai? Bahkan sudah lewat satu menit dari jadwal yang kulihat di sebuah pamflet berbahasa Inggris. Apa mungkin aku salah lihat? Tidak, aku yakin tak salah barang satu angka pun. Acaranya akan dimulai pada pukul setengah delapan. Kunaikan resleting sweater hoodie abu-abu kesayanganku sehingga menimbulkan bunyi yang khas. Malam ini angin cukup berhasil membuat aku berbuat demikian dibandingkan malam-malam sebelumnya. Di Moskwa sana pada bulan Oktober, dinginnya berlipat tiga ganda dari dinginnya Indonesia. Tak cukup dengan hoodie untuk menghangatkan tubuh. Namun Oktober sekarang aku memutuskan untuk menghabiskan musim dingin di negara khatulistiwa ini. Bukan karena aku tak kuat dengan dinginnya Moskwa, melainkan karena rasa penasaranku terhadap negara ini yang memiliki banyak budaya dan bahasa daerah. Surga dunia pula kata penduduk pribuminya.
            Lampu panggung dinyalakan. Disusul dengan lampu dari setiap candi Prambanan yang menampilkan kesan artistik bangunan peninggalan kerajaan Hindu itu. Gemintang yang tak ada keinginan dalam diri untuk menghitung jumlahnya seakan berteriak hore karena lampu candi dinyalakan. Jika Aristoteles menyaksikan seperti aku menyaksikan semua pada saat ini mungkin kata Prambanan dan Jawa akan termaktub dalam setidaknya salah satu tulisannya.
            Suara salah satu alat musik yang aku yakin bahwa itu dibunyikan dengan cara dipukul menggema ke seluruh penjuru. Penonton diam. bahkan hanya untuk sekedar berbisik pun enggan. Tersihir dengan suara Doom yang akhirnya kuketahui bahwa alat itu bernama gong setelah aku bertanya pada pemuda yang duduk disampingku. Sepertinya mahasiswa. Bahasa Inggrisnya lebih dari fasih. Jurusan sastra Inggriskah? Atau hanya pernah ikut kursus seperti orang-orang non-kaukasia lainnya yang berusaha untuk bisa bahasa Inggris demi kepentingan masing-masing. Kulihat dari ransel yang ia kenakan dan buku catatan yang ia pegang. Ia kemudian menulis, entah apa.
            Alunan musik itu menciptakan rasa magis dan sakral di lidah penonton yang kelu. Suara gong dan alat musik lainnya yang entah apa namanya membuat bulu romaku bersitegang. Mataku hanya berkedip barang dua menit sekali. Bukan, bukan karena pertunjukkan secara keseluruhan. Karena mata itu. Mata itu yang membuat mataku tidak berkedip dalam jeda waktu yang lebih lama dari biasanya. Mata dengan bola mata hitam sempurna dan alis yang menukik setajam cakar garuda. Apakah semua gadis jawa demikian adanya? Kulihat gadis-gadis lainnya yang menari bersama, sama cantiknya, sama luwesnya, sama anggunnya. Namun yang satu itu nampak tak sama meskipun mereka menari dengan gerakan yang serupa.
            Pertunjukkan selesai. Dalam hati aku merutuk kecewa karena ini sebentar sekali. Pertunjukkannya baru dimulai beberapa menit yang lalu bukan? Kulihat jam tangan peta duniaku. Pukul sepuluh malam. Akhirnya aku tersadar, sebenarnya yang tidak waras adalah diriku. Karena gadis Jawa itukah? Penonton mulai meninggalkan tempat tanpa dititah.
            “Namanya tari serimpi, tuan. Tari yang merepresentasikan anggun dan cantiknya burung merak namun susah untuk ditangkap.” Kata mahasiswa disebelahku itu tanpa ditanya. Sudah kubilang bahwa bahasa Inggrisnya lebih dari fasih. Aku menoleh padanya menunjukkan wajah heran.
            “Oh maaf sekiranya saya tidak sopan tuan, namaku Legi Sadewo. Panggil saja Legi.” Aku menjabat tangannya dan kurasakan genggaman salamnya cukup kuat untuk ukuran orang asia.
            “Namaku Ferdinand Koroskov.” Kataku kemudian tersenyum.
            “Sepertinya Tuan tertarik dengan pertunjukkan ini. Ah, tapi saya pikir anda lebih tertarik dengan angsa daripada merak.” Katanya kemudian tertawa renyah. Hei, siapa pemuda ini? Bagaimana ia tahu bahwa aku berasal dari Russia? angsa yang ia maksud tentu saja tari ballet bukan?
            “Hahaha. Sepertinya kamu tahu aku berasal dari mana.”
            “Dari namamu, tuan Koroskov.”
            “Kau jurusan sastra? Seni?”
            “Bukan mahasiswa, Tuan. Namun Tolstoy adalah salah satu yang ku kagumi.” Katanya dengan mantap tak ada keraguan. Aku menarik kesimpulan bahwa ia akan menjadi teman yang mengasyikkan.
            “Ah, sepertinya kau penikmat sastra. Tahu tempat yang nyaman dan buka sepanjang malam untuk berbincang?” Tanyaku.
            “Ikut saya, Tuan.” 
             Legi membawaku ke sebuah kafe ‘Bengawan Solo’. Alunan musik keroncong mengalun pelan menciptakan suasana klasik yang kuat. Di kafe Legi menceritakan semuanya. Tentang sungai Bengawan Solo, musik keroncong, dan sang maestro Ki Gesang.
            “Aku penikmat musik keroncong terutama karya Ki Gesang yang satu ini.” Kata Legi kemudian meneguk kopi arabika yang kami pesan.
            “Kau suka musik, tuan?”
            “Sangat suka. Jika kau berkunjung ke rumahku di Moskwa, kau pasti bakal tidak percaya bahwa itu sebuah rumah.” Jawabku dengan antusias. Semangatku bangkit begitu Legi menanyakan soal musik.
            “Aku penggemar musik klasik. Zaman Barok dan Romantik. Mozart dan Betethoven adalah dua dewa yang ku kagumi dalam bidang ini. Aku juga mengoleksi beberapa piringan hitam dan jenis gramofon. Semuanya serba klasik. Rumahku lebih terlihat seperti museum musik.”
            “Menyenangkan sekali kedengarannya. Tentu tuan bisa memainkan alat musik.” Katanya sambil memberi isyarat padaku ke arah grand piano di pojok kafe. Dapat dipahami maksudnya. Ia menantangku secara tidak langsung. Aku segera beranjak dari kursi menuju grand piano. Duduk senyaman mungkin dan memainkan The Magic Flute karya sang maestro Wolfgang Amadeus Mozart. Sambil memainkannya mataku terpejam. Meskipun tak melihat aku yakin semua mata yang ada di kafe ini tertuju kesini. Seorang bule sedang memainkan musik yang terdengar asing bagi mereka. The Magic Flute selesai. Pengunjung kafe bertepuk tangan riuh.
            “Luar biasa. Sangat senang bisa berjumpa dengan anda tuan Koroskov.” Kata Legi sambil bertepuk tangan.
            “Ferdo, panggil saja aku Ferdo supaya lebih akrab.”
            Berawal dari dua orang asing yang tak saling kenal karena perbedaan ras, budaya, dan bahasa, kini kami seperti dua sahabat yang sudah lama tak bersua. Kami memiliki banyak kesamaan. Sama-sama penikmat seni dan sastra. Legi berusia empat tahun lebih muda dariku. Ia merupakan seorang wartawan sekaligus penulis. Kegemarannya akan membaca buku dan menulis membuat ia berhasil mendapatkan posisi itu meskipun tak pernah merasakan bangku kuliah.
            “Awalnya aku mengirimkan sebuah artikel di koran nasional yang cukup terkenal dan diterima dengan respon yang sangat baik. Kemudian ditawarkan untuk menjadi kolumnis tetap yang mengisi satu kolom bertemakan sastra dan budaya. Sampai sekarang pun masih menjadi kolumnis, namun rasanya bosan jika hanya menulis saja. Dan akhirnya aku mengajukan diri menjadi wartawan.”
            “Usiamu masih muda dan kau kini menjabat sebagai wartawan dan penulis sekaligus. Sangat hebat, kawan!” Aku salut padanya. Yang dipuji hanya tertawa.
            “Oh ya, sepertinya kau suka tarian tadi. Jika mau aku bisa mengajakmu ke sanggar tempat para penari itu berlatih.”
            Entah mengapa darahku berdesir mendengar ajakannya. Teringat pada salah seorang penari tadi yang menyihirku menjadi lupa waktu.
            “Dengan senang hati.” Kataku mantap. Kami bertukar nomor whatsapp.

            Lima belas menit aku menunggu di halte. Kami sepakat untuk bertemu disini. Legi belum nampak batang hidungnya. Bau asap rokok tercium langsung olehku. Berasal dari lelaki tua dengan sekotak kardus dipangkuan. Entah apa isinya. Lelaki itu sekilas memperhatikan penampilanku. Terlihat sangat ingin menyapa namun khawatir salah ucap. Dalam hati ini berniat menegur namun khawatir si kakek tak paham.
            “Selamat pagi, tuan Ferdo. Maaf membuatmu menunggu. Orang barat memang selalu lebih tepat waktu ya.” Katanya kemudian tertawa.
            “Ah, tak apa. Banyak hal yang ku perhatikan selama menunggu. Menarik.”
            Kami menaiki bus kota menuju tempat yang kuharap disana berjumpa dengan gadis itu. Saat ini kusebut sajalah ia sang penari. Di perjalanan Legi menceritakan banyak hal. Segala sesuatu tentang negeri ini ia ceritakan. Sejarah, seni, budaya, dan bahasa menjadi topik utamanya.
            “Indonesia mempunyai lebih dari seribu bahasa daerah. Bayangkan tuan, lebih dari seribu! Tapi dari Sabang sampai Merauke kami berbahasa ibu hanya satu, tuan. Bahasa Indonesia. Yang menyatukan kami hingga saat ini.” Kata Legi dengan antusias dan obrolan kami berhenti karena Legi memberi isyarat kepadaku untuk turun. Kami sudah sampai.
            Kami memasuki gerbang kayu bertulisan ‘Sanggar Tresno’ diatasnya. Melewati jalan yang terdiri dari kumpulan batu alam. Rumput dan bunga di kanan-kiri menyambut kedatangan kami. Bangunan sanggar yang terbuat dari kayu jati yang dipernis membuat mataku tak bosan menatapi setiap guratan-guratan alami pada dindingnya.     
            “Selamat datang Tuan Koroskov.” Seorang wanita dengan setelan kebaya hijau muda tiba-tiba muncul dari balik pintu bangunan ini. Rambutnya disanggul besar memberi kesan bahwa ia adalah wanita bersahaja. Uban putih terlihat beberapa baris diantara rambut hitamnya. Tunggu, Bagaimana ia tahu namaku?
            “Ah, seharusnya kau tanyakan itu pada Legi. Legi yang memberitahu bahwa kau akan datang. Perkenalkan namaku Nyimas.” Wanita ini menangkap wajah heranku. Kami bersalaman. Logat jawanya tak bisa disembunyikan meskipun dengan bahasa Inggris.
            “Senang berjumpa dengan anda, nyonya Nyimas.”
            “Mari, silahkan masuk.”
            Perempuan itu menuntun kami ke ruang tamu di belakang. Ruang tamu seolah sengaja diposisikan demikian. Karena dari jendela di ruangan ini, aku bisa melihat sekelompok gadis sedang latihan menari. Aku mencari-cari sosok ‘sang penari’ namun tak kudapat dia diantara mereka.
            ”Nyonya. Siapakah gadis yang paling pandai menari diantara gadis-gadis yang lain?” Tanyaku lancang.
            “Mengapa tuan bertanya demikian?”
            Bodoh. Pertanyaan macam apa pula itu. Seperti tak ada pertanyaan yang lain saja.
            “Kalau berkenan, aku ingin mewawancarai gadis itu.” Alasan itu keluar dari mulutku secara spontan. Luar biasa.
            “Tunggu sebentar.”
            Perempuan itu meninggalkan ruang tamu. Legi terlihat sedang mangamati beberapa lukisan yang terpajang di ruang tamu. Semenjak kami tiba di tempat ini ia lebih banyak diam.
            “Hey bocah bandel, kenapa kau tak bilang kakak bahwa kau ingin kemari?”
            Sosok itu datang secara tiba-tiba. ‘Sang penari’ yang menyihirku menjadi lupa waktu.
            “Lebih baik aku bilang langsung ke Nyonya Nyimas daripada ke gadis galak seperti kakak. Pantas saja sampai saat ini tak ada lelaki yang mau dekat-dekat dengan kakak. Huh. Galak sekali macam....”
            “Macam apa....?”
            “Ah perkenalkan kak, ini tuan Ferdinand Koroskov dari Russia.”
            Tunggu, Jadi gadis ini? Gadis yang mengatur jeda kedipan mataku ini adalah kakak dari bocah ini? Gadis itu tertunduk malu setelah menyadari bahwa sejak tadi ada orang lain selain adiknya di ruangan ini, terlebih orang itu adalah bule.
            “Maaf Tuan, aku kelepasan. Perkenalkan namaku Puspita Sadewi. Panggil saja Dewi. Kakak dari bocah bandel yang bersama tuan saat ini.” Katanya dalam bahasa Inggris berlogat Jawa.
 Kejadian malam itu terulang kembali namun kali ini berlipat-lipat rasanya. Sentuhan tangannya yang menyalamiku terasa tak cukup sampai dikulit namun sampai ke jantung. Rasanya ingin melompat dan berteriak saja.


Sudah hampir lima jam aku menunggu di depan ruang operasi dengan was-was lagi penuh harap. Aku tidak bisa tenang. Aku sangat berharap operasinya  berhasil sehingga Marry bisa sembuh dan kembali seperti Marry yang ku kenal dulu. Marry yang periang. Yang selalu bisa membuatku tertawa disaat cemas sekalipun. Namun kali ini tak ada yang mampu menghilangkan rasa cemas ini. Pintu ruang operasi dibuka. Dengan cepat aku menghampiri dokter.
“Bagaimana operasinya dok?”
“Masuk ke dalam, dia membutuhkan dukunganmu.” Kata dokter itu dingin. Dengan gerakan secepat rusa aku masuk kedalam ruangan. Menghampiri kekasihku yang kini tergolek tak berdaya di atas kasur rumah sakit dengan berbagai macam alat bantu yang berusaha keras membuatnya agar tetap bisa bernafas.
“Ferdo, aku sudah tidak kuat lagi. Biarkan aku kalah. Kanker ini terlalu kuat. Bukankah mengalah itu tak berarti kalah?” Entah mengapa hati ini terasa perih mendengar kalimatnya barusan. Aku menangis.
“Sayang, pernikahan kita tinggal beberapa bulan lagi. Kamu harus bisa bertahan.”
“Tidak. Aku.. Aku berjanji sayang, akan mengirimkanmu seorang bidadari titisan dewi Venus  yang datang dari surga. Aku janji....... Dengarkan baik-baik Ferdo, aku jan...ji...”
Tangisku meledak. Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Marry. Aku tak paham betul maksudnya.   
Sejak saat itu hidupku tak bersemangat. Aku menjadi orang linglung. Tak tahu arah. Hingga akhirnya aku mencoba untuk bangkit. Melupakan segalanya dan mencoba membuka halaman baru. Aku pergi melancong ke berbagai negara di dunia untuk memperbaiki suasana hati.

Sudah hampir satu jam aku menunggu di depan ruang operasi dengan was-was lagi penuh harap. Aku tidak bisa tenang. Aku sangat berharap persalinannya berjalan dengan lancar. Pintu ruang persalinan dibuka. Dengan cepat aku menghampiri dokter. 
“Bagaimana persalinannya dok, berhasil?”
“Tengoklah kedalam, bayinya perempuan.” Kata dokter itu disertai senyuman ramah. Dengan gerakan secepat rusa aku masuk kedalam ruangan. Menghampiri istriku yang kini tergolek lemas diatas kasur rumah sakit. Meskipun demikian ia berusaha untuk tersenyum menyambut kedatanganku.

Pertemuanku dengan Dewi di sanggar Tresno membuatku tersadar bahwa Marry telah menepati janjinya. Dewi adalah sosok gadis jawa yang periang persis seperti Marry hanya dalam bentuk dan budaya yang berbeda. Dewi adalah gadis yang baik, ramah, namun tegas. Tepat seperti janji Marry, Dewi adalah titisan Venus. Sejak peristiwa disanggar, kami sering bertemu dari hanya sekedar berbincang seputar kebudayaan masyarakat Jawa sampai masalah pribadi. Aku mengajaknya untuk menikah ia terima dengan satu syarat. Ia tak ingin tinggal di Moskwa sana, cukup disini saja katanya, di tanah kelahirannya. Surga dunia. Indonesia.

Selasa, 18 Oktober 2016

Good Teacher is a Good Hero

If Superman was known by people as a hero who showed his bravery and extraordinary power to help citizen, a teacher was known and respected because his work to learn and educate their students. Many people want to be like Superman in their fantasy because he looked so cool and great. But they forgot the hero in real lief . We get Superman’s exceptional action in the movie or comic but  the teacher’s work is not fiction.  Superman overcome the citizen’s problem and a teacher moreover. A teacher can make personages: doctor, police, army, scientist, architect, and much more. 

                To be a teacher is a good wish. Becoming it is needed patience, carefulness, sincerity, and creativity. Patience in facing students, sincerity in transfering knowledges, and creativity in teaching. All of them makes you a good teacher perfectly. If you want to be a teacher actually you should have a special characteristic. Based on the character, teacher was divided into several categories:

                The first is a text book-teacher who always used the text book in every teaching. Whole of the utternce and expression of him/her is based on the text book.  Basically a teacher must have reference books as material of teaching. But, a teacher also must guard the students with explaining the material to make them perfectly understand.

                The second is a researcher teacher. We can find this one in mathematical and natural sciences class. The teacher’s talk and teaching based on scientific facts. Therefore, this teacher is easy to be received and understand by her/his students. If there is a student who have a cheat with his friend or make a copy-paste from internet automatically will be known by this teacher.

                The third is a fashionable teacher. This type of teacher  always tries to be perfect in front of students. This teacher usually wear the accessories as outfit to interest students and other teachers in the college or school. 

                The fourth is an invisible teacher. This type of teacher infrequently come into the class but he/she always give some assignments for students frequently. There are two reasons why the teacher come into the class infrequently. The first he/she has an other activities out of the class and the second is laziness. It is not a good example because students could not ask questions directly when they don’t understand about the material.

                The fifth is a killer teacher. This type of teacher is very firm in teaching and scoring. Usually this teacher has many rules for students. For example: Nobody go out of the class during lesson, nobody come late into the class, nobody talk with friends during the class, and so on. Students have no bravery to collide the rules because the punishment or anger.

                The sixth is a friendly teacher. This type is usually favourited by students. This teacher has a good communication and ability to approach students. He/she can make a pleasing situation in the class so that students enjoyed and pleased during lesson, example: make a joke among his/her expalanation of material.


                That’s all types of teacher based on character. Recently, a teacher should have a good and creative performance and always up to date with many things. Reading or searching many references makes the perfection. A good teacher is who can communicate with students well and have a knowledges more than them. If you can be a good teacher, you can be a good hero equally.

Puisi: Mengeluh?



Aku kagum kepadanya...
Yang mampu:

Tersenyum saat hati getir
Bangkit walau sedang lumpuh
Berteriak walau suara serak
Tertawa walau sedang rapuh
Berlari walau kaki sakit

Bernyanyi walau tak bisa bicara
Memandang walau tak bisa melihat
Mencoba mengerti walau tuli
Bermain walau tak ada yang mengajaknya main

Kepadanya
Aku tersenyum,
Aku menunduk malu

Masihkah ada kesempatan untukku
Untuk mengeluh
Hanya karena tugas-tugas kuliahku?






Bandung, 23 Maret 2016

Puisi: Keliling Dunia




Aku punya permadani terbang
Yang siap mengantarkanku kemana saja
Aku juga punya jubah menghilang
Yang siap menyembunyikanku dimana saja

Berkat mereka...
Aku bisa merasakan dinginnya St. Bassil di Rusia
Menikmati pemandangan gadis-gadis cantik Moskwa
Menyaksikan keanggunan tari angsa

Berkat mereka...
Aku bisa melihat istana Buckingham
Memperhatikan Pangeran William sedang mencium pipi Kate
Dengan Pangeran George di pangkuan mereka

Berkat mereka...
Aku bisa menikmati angkuhnya White House
Diam-diam masuk ke dalamnya
Makan malam dengan Obama

Berkat mereka...
Aku bisa menyentuh ujung menara Eiffel
Menyaksikan pemandangan kota Paris nan Modis
Sungguh kota yang romantis


Berkat mereka...
Aku bisa berdiri diujung Pyramid
Merasakan panasnya Giza
Menikmati eksotisnya pantai Alexandria

Berkat mereka...
Aku bisa selfie dengan gajah India
Menari-nari dengan ular cobra
Oh lucunya

Berkat mereka...
Aku berdecak kagum dengan megahnya Hagia Sophia
Menatap lukisan Yesus dan kaligrafi Al-Qur’an
Dalam satu bangunan

Berkat mereka...
Aku bisa merasakan asamnya kimchi
Melihat uniknya Istana Biru
Anyeongasheo Korea


Berkat mereka...
Aku bisa melihat sakralnya Ka’bah
Meneguk segarnya air zam-zam
Oh nikmatnya sembahyang di Masjidil Haram


Dalam do’a ku berharap
“Ya Tuhan, aku bingung harus kemana lagi
Sudah banyak negeri ku lalui,
Tunjukkan aku negeri yang paling indah didunia ini.”

Seketika itu juga,
Dalam sekejap mata,
Aku berada di kamar kost ku
Di Bandung, Indonesia.



Bandung, 23 Maret 2016

English Must be Fun for Children


            Currently foreign language is not as trivial as it was formerly. Mastering it entirily is substansial thing that can make someone is looked ‘different’ from others. It can be found in job vacancy that one of the prerequirements to get the job is be able to speak English fluently. So it can be concluded that foreign language especially English is required. If this statement is allright, the matter is how far people focusing to learn English itself. Many people have their methods to overcome this matter. And one of the methods is ‘learning English from an early age’. And this role is held by parents actually. Looking many English courses in many places shows us that parents today think that is better to put their children into English course so that their children can communicate in English fluently. But the matter is all children don’t have passion as same as their parents. Some children enjoy in learning English and some children are not. So in this paper will be explained how should parents treat their children in learning English?
            “A child like as a dry sponge which was added to water, it absorbs everything." said Tanti Widya Rani, M.Psi, a psychologist in Kompasiana (2013). According to that statement can be conluded that chidren are very sensitive to every information their received either from their family, schoolmate, teacher, and everything which can give an information to them. And it is genuinely influential to their mindset. So if parents don’t use the appropriate method to child in order to be able to do something, of course it doesn’t work maximally. In this case for example, the wrong method is when parents demand their child to learn English without knowing their child’s interest and passion at first. Directing children to positive works is good, but it will be better if it is done by using the appropriate methods according to the children’s interest and passion. Children usually don’t like anything sounds serious which can make them confused and stressed. So if parent or teacher teach English to children with methods that they dislike so the information and impression which was received by them is ‘learning English is boring and annoying’. And it is not right if we blame children about this case.
            It is generally accepted that children and adults have different toughts. Therefore,  knowing what children interested and liked is the first step before demand them to learn something. It can be cloncluded that children will learn a foreign language more easily if it is integrated with another subject especially which related to their interest and passion.  
Creative method is required to make them fresh and feel fun. For instance, by studying in the park so that children can see a lot of things such as trees, flowers, butterflies, chair, people, grass, and whatever he saw in the park. So eventually a good impression is formed in the child's mind. A child think that he get lots of fun and know new things from that. When a good impression formed in child’s mind it is a good occasion to teach him English of the objects he saw in the park. Instead of feeling bored, the child even interested and enjoy it. And there are a lot of subjects can be integreted to learn English such as music, movie, game, funny pictures, and other things which are liked by children.
             Learning is the duty of a child but playing happily is their right either. A good impression will result something good. So by showing them a good impression in learning English, of course they would think that learning English is fun.
                     



Sabtu, 15 Oktober 2016

Baper? Apa yang Salah?

Pernah kalian merasakan suatu emosi karena melihat, mendengar, atau menyentuh sesuatu yang kalian suka atau sebaliknya? Dan ketika kalian melakukan ketiganya itu timbul lah emosi yang kuat dalam diri secara spontan. Ya, dewasa ini hal semacam itu dikenal keren dan gaul dengan sebutan 'baper', kata singkat dari 'bawa perasaan'. Entah siapa yang menciptakan istilah kekinian ini, yang pasti wujud kosakata 'baper' sendiri menimbulkan banyak pengaruh terutama di kalangan kawula muda (baca: remaja).

Sebagai mahasiswa sudah barang tentu saya sering mendengar istilah ini. Baper atau bawa perasaan adalah keadaan dimana seorang merasakan atau merespon sesuatu secara berlebihan. Contoh: Mahasiswi semester tiga yang mengidolakan seniornya sendiri, mahasiswa semester tujuh. Suatu hari mahasiswi tersebut berpapasan dengan kakak tingkat yang ia idolakan itu, tanpa disangka-sangka kakak tingkat itu tersenyum padanya. Sungguh sebuah moment langka baginya. Bahkan selama satu minggu mahasiswi itu selalu kepikiran tentang kejadian itu. Ia berpikir bahwa kakak tingkat itu suka padanya. Hanya karna dia tersenyum! Ya, ini lah yang disebut baper. Oh ya, ini berlaku bukan hanya ketika perasaan bahagia. Sebaliknya, ketika ada seorang karyawan yang ditegur oleh atasannya lalu karyawan tersebut memikirkan kejadian itu secara berlebih. Ia berpikir bahwa atasannya sangat membenci dirinya. Padahal belum tentu begitu, kan? Bisa saja atasannya melakukan hal itu demi kebaikan si karyawan agar bekerja lebih baik. Begitupun kasus pertama, bisa saja kakak tingkat itu hanya mencoba bersikap ramah terhadap mahasiswi tersebut.

Yang jadi masalah adalah penamaan istilah 'baper' itu sendiri. Apakah tepat? Seperti sudah saya katakan bahwa baper itu singkatan dari 'bawa perasaan'. Namun ketika kita ketahui maknanya secara general, akan terlihat ketidak cocokan antara keduanya. Antara nama dan makna itu sendiri. Setiap manusia tentu memiliki perasaan. Perasaan atau emosi merupakan bahan bakar manusia untuk mengolah pikiran menjadi sebuah sikap atau tindakan. Lalu, apa masalahnya jika bawa perasaan? Toh, perasaan pasti selalu muncul dalam benak manusia karena manusia diciptakan berperasaan bukan? Justru akan sangat aneh jika seorang manusia tidak memiliki perasaan. Jika ada manusia macam itu, pasti hilang lah akal sehatnya alias gila. Seandainya istilah ini diganti dengan 'bapeber' yang berarti 'bawa perasaan berlebih' saya rasa lebih tepat. Mengapa? Karena 'bawa perasaan' dengan 'bawa perasaan berlebih' adalah berbeda. Dengan penambahan kata 'berlebih' berarti menunjukkan ada yang tidak wajar. Bukankah segala sesuatu yang berlebihan itu tidak wajar?
Jadi siapa yang salah? Pencipta kata baper itu sendiri atau kita yang seolah-olah setuju dengan istilah ini?