Selasa, 20 Desember 2016

Suara Anak Sastra

Masih dalam gelap yang sama, hitam;
Kami bergelut dengan segala macam pikiran mengenai kehidupan dan orang-orang.
Melihat tali temali maha rumit yang mengikat jaring-jaring realita.
Dan jaring-jaring itu sendiri bersimpul mati. Semuanya berasal dari serabut yang kuat lagi tebal, rumit, sepintas terlihat sederhana namun sukar dijelajah.
Maafkan jika kata-kata kami menggelitik pikir kalian. Membuat kalian merasa jijik dan menganggap kami adalah orang-orang berlebihan kurang kerjaan dengan bahasa yang sulit dimengerti.
Kami adalah kami.
Dengan segala pemikiran dan tingkah laku kami. Juga dengan perasaan yang lebih peka ketimbang yang lain.
Acapkali satu dua tiga cekcok kami alami diantara golongan kami. Kendati demikian, kami tetaplah kami.
Dengan segala ekspresi diri yang menurut kalian sekedar cari sensasi.  Tau apa kalian?
Jika kalian mengetahui dilemanya kami; berada dalam ruangan kaku dan dingin yang justru didalamnya memaksa kami untuk bergerak bebas. Sebuah paradoks yang menjadi tulang ikan dalam tenggorokan kami.
Masih dalam gelap yang sama; hitam. Bahkan kami berpikir,  jika gelap adalah hitam lalu terang itu apa?

Minggu, 18 Desember 2016

Let’s Go Around the World!



One time I wrote a status on facebook pages with like this:
This holiday where should I go? It would be nice if I become a backpacker so could travel around the world. Feel the cold at st. Basil in Russia, come to white house in the USA, see a romantic sense in Paris, Take a picture in a buckingham, then ... Fly to Middle Eastern smell the Hajar Aswad in Makkah, pray in Nabawi mosque, see the painting Virgin Mary in Hagia Sophia, sweating in the Sahara desert, take a selfie in Sphinx, dinner at Alexandria Beach in Egypt.. and the next day fly to Mumbai, India. Danced with the cobra and the Indian elephant, walk along the 'Great Wall' in China, picking cherry blossoms in Tokyo, lunch in Korea and taste kimchi, then fly to Thailand in order to kill the curiosity in tasting tomyam, take a rest in the twin towers of Petronas, go to Singapore to see the Merlion statue, and finally return to my homeland, Indonesia, the paradise of the world - Wake up from a dream, then trying to make the dream really happen ...
Who does not want to travel around the world? Go around the world and spread a lot of goodness is the dream of many people.  We can share stories and experiences to new friends in different countries. We can also take the positive values ​​of their culture.
Who does not want to travel around the world? How great person ever to do so. Moreover, currently it supported by social media that allows us to share the experience with friends and show them that we are in a different country. Look how great we are!
Foreign language is the foundation to pursue the wish. Learning foreign language is currently very substansial. Such as English, German, French, Korean, Japanese, Chinese, and Arabic. Languages ​​mentioned are popular languages today. USA, England, Germany, and France are the countries which the most targeted for continuing the study because these countries have an excellent education system.  Japan, Korea, and China are countries known for influential economic sector in the world, especially in Asia itself. If we master one of the three languages ​​are then not a few companies that will accept us. Arabic is the language of the Qur'an. When we master the Arabic language, we will understand the contents of the Qur'an and not misinterpret this holy book. Islamic religious literature laden with his books. If we master the Arabic language will have no difficulty in reading these books.
How substantial foreign languages are, so to become a ‘traveller’ is an easy thing if we master the languages mentioned above. If you do not like to memorise so many vocabularies in different languages ​​just focus to only one of the foreign languages ​​for example English. The most fundamental thing in mastering the language is interest in the language itself. Language represents a nation or culture. Therefore if we want to learn English for example we have to make our heart feel attracted to everything about English at first: language, culture, artworks, music, and whatever related to English. This also applies to all languages. If you have a sense of love and interest, it is not hard to learn the language. So then learning a foreign language becomes very pleasant even a necessity.
Do you have a dream to explore the world? So what are you waiting for? Practice makes Perfect, preparation makes perfection. Do it right now!


Baca, yuk!

“Menurut data dari The Organization for Ecocomic Co-operation and Development (OECD), budaya membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat teredah di antara 52 negara di Asia.
Unesco melaporkan pada 2012 kemampuan membaca anak-anak dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku, sedangkan Indonesia mencapai titik terendah: 0 persen.
Artinya, drai 1000 anak Indonesia, hanya satu yang mampu menghabiskan satu buku dalam setahun.
Ini persoalan penting, ini perkara genting. Soal  minat baca memang terlihat tidak semendesak soal energi atau pangan. Tapi bagaimana menyiapkan masa depan negeri ini jika tingkat literasi begitu rendah?” Begitulah kata Najwa Shihab dalam harian Kompas, 18 Agustus 2016 bertepatan dengan hari aksara internasional.
                Tanpa kita sadari negara kita menduduki peringkat paling rendah dalam minat baca dan tulis. Ini bukan persoalan sepele mengingat sebuah peradaban bisa dilihat maju atau tidaknya dari minat masyarakatnya akan literasi. Jika hal yang paling mudah seperti membaca saja masih rendah, bagaimana dengan memperbaiki negara? Jika masyarakatnya malas membaca bagaimana dengan memperbaiki pemerintahan? Jika masyarakatnya lebih asyik memainkan gadget dan belanja barang-barang bermerk ketimbang membaca buku, bagaimana dengan memperbaiki perekonomian negara?
                Membaca memang tidak membuat yang lapar menjadi kenyang. Akan tetapi lebih dari itu, membaca buku dapat menambah wawasan seseorang bagaimana menyikapi persoalan ekonomi seperti kemiskinan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.
                Mungkin, salah satu penyebab rendahnya kebiasaan membaca di negara kita adalah pola pikir masyarakatnya yang menganggap bahwa membaca itu tidak penting. Lebih baik kerja keras, banting tulang sehingga menghasilkan uang ketimbang duduk nyaman sambil membaca buku. Ya, pola pikir ini sekilas biasa saja. Tapi tentu saja tidak sebiasa itu.
                Kita kenal dengan Soekarno, BJ. Habibie, Gus Dur, Quraish Shihab, dan tokoh-tokoh besar lainnya yang hidup di negara kita. Mereka adalah orang yang mnghargai ilmu. Begitu menghargainya mereka sangat mencintai buku. Kegemaran mereka akan membaca tidak perlu ditanyakan lagi. Lantas kita? Orang-orang biasa saja pantaskah berbicara bahwa membaca itu tidak penting? Apakah kita tidak terlihat sombong dengan mengatakan hal seperti itu?
                Wahyu pertama yang diturunkan Allah melalui malaikat Jibril kepada RasulNya adalah ‘Iqra’ yang berarti ‘bacalah!’. Satu kata ini merupakan kata kerja tanpa subjek maupun objek sebelum dan sesudahnya. Sehingga dalam bahasa Arab sendiri kata ini merujuk pada kalimat perintah. Sudah barang tentu Allah menurunkan ayatNya dengan kata ‘Bacalah!’ bukan tanpa alasan. Mengapa ayat yang diturunkan pertama bukan ‘Sembahlah’ atau ‘Sholatlah’?
                Tentu saja karena membaca merupakan pondasi awal untuk menciptakan manusia yang beradab dab beriman. Beradab berarti memiliki pola pikir cerdas, mengetahui nilai dan makna, bisa membedakan mana yang baik dan benar, dan berlaku baik terhadap orang-orang dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan beriman berarti memercayai apa yang tidak terlihat dengan mata. Adapun puncak beradab dan berimannya manusia adalah ketika ia sadar bahwa dirinya ada yang menciptakan, ketika ia sadar bahwa ada yang melebihi dirinya yaitu Allah.
                Ya, tentunya kebiasaan membaca tidak dapat dipaksakan begitu saja apalagi kepada para orang dewasa. Tapi bukan tidak mungkin jika kebiasaan membaca ini dibiasakan sesegera mungkin. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Untuk para orang tua sebaiknya sudah mengenalkan buku-buku kepada anak-anaknya sejak usia dini, sehingga anak-anak akan terbiasa dengan membaca nantinya.

                Berbahasa berarti berbudaya. Berbudaya berarti memiliki peradaban. Peradaban yang besar terbentuk karena budaya yang kuat. Budaya yang kuat mencerminkan masyarakat yang cerdas. Cerdas berbudaya, bersosial, berpendidikan, berniaga, bekerja, dan beragama. Dan semua itu terwujudkan jika masyarakatnya memiliki minat baca yang tinggi.

Reading Habit for Civilized Society



"According to data from the Organization for Ecocomic Co-operation and Development (OECD), the reading culture of Indonesian society is the lowest rank among 52 countries in Asia. In 2012 Unesco reported that a child has an ability to spent 25 books in a year, while Indonesia reached the lowest point: 0 percent. It means, from 1,000 Indonesian children, only one is able to spend one book in a year. This is a substansial issue, this critical case. The roblem of interest in reading probably is not as significant as about energy or food. But how to prepare the country's future if the literacy rate of the society is so low?"  Said Najwa Shihab in Kompas Daily, August 18, 2016 coincided with the international literacy day.
Without us knowing our country was ranked the lowest in reading and writing. This is not a trivial issue considering a country can be seen whether developed or developing from the interest of literacy. If the easiest things such as read only still low, how to improve the country itself? If people are lazy to read how to improve governance itself? If society is more fun to play gadget and shopping branded goods rather than read a book, how to fix the country's economy itself?
Reading did not make that hunger be satisfied, but more than that reading a book can add insight to someone how to address economic problems such as poverty so he/she can fix it in a real life with the ways written in the book.
Perhaps, one of causes of the low reading habits in our country is the mindset of people who think that reading is not important. Better work hard to make money rather than sit comfortably while reading a book. Yes, this mindset is casual glance. But of course it's not as casually like that.
We are familiar with Soekarno, BJ. Habibie, Gus Dur, Quraish Shihab, and other great figures who live in our country. They are the ones who appreciate science. Give them a book they love. They’re reading so many books so they can be a great figures be like. So we are? Only ordinary people how dare to say that reading is not important? Don’t we look arrogant to say such a thing?
The first revelation which Allah revealed through the angel Gabriel to His Messenger Muhammad is 'Iqra' which means 'read'. This one word is a verb without a subject or object before and after. Thus, in the Arabic language itself it refers to the command line. Why is the first verse revealed not the word 'worship' or 'go pray' maybe? Of course, God sent down His verses with the word 'Read!' Is not without reason.
Actually reading habit is an early foundation for creating a civilized men and faithful. Civilized men means society who have an intelligent mindset, knows the value and meaning, can distinguish between which is the true and false one, and make anything useful to the people and environment around them. And faith means believing what is not visible to the eye. The climax of faith of civilized man is when he realized that he was created by The Great One, when he realized there is something greater than him and it’s the Highest one, it is God.
The reading habit actually can not be enforced for granted especially to the adults. But it is not mean impossible to do. Never too late to learn and so something goodness. And for parents should be better to introduce books to children from an early age, so that the children will get used to read later.
Speak means cultured. Cultured means it has civilization. Great civilizations are formed because of a strong culture. A strong culture reflects the intelligent human being. Intelligent in science, social, education, economy, and religion. And all of them will happen if the people have a high interest in reading.


Cerpen: SURGA DUNIA



Kulihat jam tangan dengan latar bergambar peta dunia kesayanganku. Pukul tujuh lewat tiga puluh satu menit. Hei, bukankah acara seharusnya sudah dimulai? Bahkan sudah lewat satu menit dari jadwal yang kulihat di sebuah pamflet berbahasa Inggris. Apa mungkin aku salah lihat? Tidak, aku yakin tak salah barang satu angka pun. Acaranya akan dimulai pada pukul setengah delapan. Kunaikan resleting sweater hoodie abu-abu kesayanganku sehingga menimbulkan bunyi yang khas. Malam ini angin cukup berhasil membuat aku berbuat demikian dibandingkan malam-malam sebelumnya. Di Moskwa sana pada bulan Oktober, dinginnya berlipat tiga ganda dari dinginnya Indonesia. Tak cukup dengan hoodie untuk menghangatkan tubuh. Namun Oktober sekarang aku memutuskan untuk menghabiskan musim dingin di negara khatulistiwa ini. Bukan karena aku tak kuat dengan dinginnya Moskwa, melainkan karena rasa penasaranku terhadap negara ini yang memiliki banyak budaya dan bahasa daerah. Surga dunia pula kata penduduk pribuminya.
            Lampu panggung dinyalakan. Disusul dengan lampu dari setiap candi Prambanan yang menampilkan kesan artistik bangunan peninggalan kerajaan Hindu itu. Gemintang yang tak ada keinginan dalam diri untuk menghitung jumlahnya seakan berteriak hore karena lampu candi dinyalakan. Jika Aristoteles menyaksikan seperti aku menyaksikan semua pada saat ini mungkin kata Prambanan dan Jawa akan termaktub dalam setidaknya salah satu tulisannya.
            Suara salah satu alat musik yang aku yakin bahwa itu dibunyikan dengan cara dipukul menggema ke seluruh penjuru. Penonton diam. bahkan hanya untuk sekedar berbisik pun enggan. Tersihir dengan suara Doom yang akhirnya kuketahui bahwa alat itu bernama gong setelah aku bertanya pada pemuda yang duduk disampingku. Sepertinya mahasiswa. Bahasa Inggrisnya lebih dari fasih. Jurusan sastra Inggriskah? Atau hanya pernah ikut kursus seperti orang-orang non-kaukasia lainnya yang berusaha untuk bisa bahasa Inggris demi kepentingan masing-masing. Kulihat dari ransel yang ia kenakan dan buku catatan yang ia pegang. Ia kemudian menulis, entah apa.
            Alunan musik itu menciptakan rasa magis dan sakral di lidah penonton yang kelu. Suara gong dan alat musik lainnya yang entah apa namanya membuat bulu romaku bersitegang. Mataku hanya berkedip barang dua menit sekali. Bukan, bukan karena pertunjukkan secara keseluruhan. Karena mata itu. Mata itu yang membuat mataku tidak berkedip dalam jeda waktu yang lebih lama dari biasanya. Mata dengan bola mata hitam sempurna dan alis yang menukik setajam cakar garuda. Apakah semua gadis jawa demikian adanya? Kulihat gadis-gadis lainnya yang menari bersama, sama cantiknya, sama luwesnya, sama anggunnya. Namun yang satu itu nampak tak sama meskipun mereka menari dengan gerakan yang serupa.
            Pertunjukkan selesai. Dalam hati aku merutuk kecewa karena ini sebentar sekali. Pertunjukkannya baru dimulai beberapa menit yang lalu bukan? Kulihat jam tangan peta duniaku. Pukul sepuluh malam. Akhirnya aku tersadar, sebenarnya yang tidak waras adalah diriku. Karena gadis Jawa itukah? Penonton mulai meninggalkan tempat tanpa dititah.
            “Namanya tari serimpi, tuan. Tari yang merepresentasikan anggun dan cantiknya burung merak namun susah untuk ditangkap.” Kata mahasiswa disebelahku itu tanpa ditanya. Sudah kubilang bahwa bahasa Inggrisnya lebih dari fasih. Aku menoleh padanya menunjukkan wajah heran.
            “Oh maaf sekiranya saya tidak sopan tuan, namaku Legi Sadewo. Panggil saja Legi.” Aku menjabat tangannya dan kurasakan genggaman salamnya cukup kuat untuk ukuran orang asia.
            “Namaku Ferdinand Koroskov.” Kataku kemudian tersenyum.
            “Sepertinya Tuan tertarik dengan pertunjukkan ini. Ah, tapi saya pikir anda lebih tertarik dengan angsa daripada merak.” Katanya kemudian tertawa renyah. Hei, siapa pemuda ini? Bagaimana ia tahu bahwa aku berasal dari Russia? angsa yang ia maksud tentu saja tari ballet bukan?
            “Hahaha. Sepertinya kamu tahu aku berasal dari mana.”
            “Dari namamu, tuan Koroskov.”
            “Kau jurusan sastra? Seni?”
            “Bukan mahasiswa, Tuan. Namun Tolstoy adalah salah satu yang ku kagumi.” Katanya dengan mantap tak ada keraguan. Aku menarik kesimpulan bahwa ia akan menjadi teman yang mengasyikkan.
            “Ah, sepertinya kau penikmat sastra. Tahu tempat yang nyaman dan buka sepanjang malam untuk berbincang?” Tanyaku.
            “Ikut saya, Tuan.” 
             Legi membawaku ke sebuah kafe ‘Bengawan Solo’. Alunan musik keroncong mengalun pelan menciptakan suasana klasik yang kuat. Di kafe Legi menceritakan semuanya. Tentang sungai Bengawan Solo, musik keroncong, dan sang maestro Ki Gesang.
            “Aku penikmat musik keroncong terutama karya Ki Gesang yang satu ini.” Kata Legi kemudian meneguk kopi arabika yang kami pesan.
            “Kau suka musik, tuan?”
            “Sangat suka. Jika kau berkunjung ke rumahku di Moskwa, kau pasti bakal tidak percaya bahwa itu sebuah rumah.” Jawabku dengan antusias. Semangatku bangkit begitu Legi menanyakan soal musik.
            “Aku penggemar musik klasik. Zaman Barok dan Romantik. Mozart dan Betethoven adalah dua dewa yang ku kagumi dalam bidang ini. Aku juga mengoleksi beberapa piringan hitam dan jenis gramofon. Semuanya serba klasik. Rumahku lebih terlihat seperti museum musik.”
            “Menyenangkan sekali kedengarannya. Tentu tuan bisa memainkan alat musik.” Katanya sambil memberi isyarat padaku ke arah grand piano di pojok kafe. Dapat dipahami maksudnya. Ia menantangku secara tidak langsung. Aku segera beranjak dari kursi menuju grand piano. Duduk senyaman mungkin dan memainkan The Magic Flute karya sang maestro Wolfgang Amadeus Mozart. Sambil memainkannya mataku terpejam. Meskipun tak melihat aku yakin semua mata yang ada di kafe ini tertuju kesini. Seorang bule sedang memainkan musik yang terdengar asing bagi mereka. The Magic Flute selesai. Pengunjung kafe bertepuk tangan riuh.
            “Luar biasa. Sangat senang bisa berjumpa dengan anda tuan Koroskov.” Kata Legi sambil bertepuk tangan.
            “Ferdo, panggil saja aku Ferdo supaya lebih akrab.”
            Berawal dari dua orang asing yang tak saling kenal karena perbedaan ras, budaya, dan bahasa, kini kami seperti dua sahabat yang sudah lama tak bersua. Kami memiliki banyak kesamaan. Sama-sama penikmat seni dan sastra. Legi berusia empat tahun lebih muda dariku. Ia merupakan seorang wartawan sekaligus penulis. Kegemarannya akan membaca buku dan menulis membuat ia berhasil mendapatkan posisi itu meskipun tak pernah merasakan bangku kuliah.
            “Awalnya aku mengirimkan sebuah artikel di koran nasional yang cukup terkenal dan diterima dengan respon yang sangat baik. Kemudian ditawarkan untuk menjadi kolumnis tetap yang mengisi satu kolom bertemakan sastra dan budaya. Sampai sekarang pun masih menjadi kolumnis, namun rasanya bosan jika hanya menulis saja. Dan akhirnya aku mengajukan diri menjadi wartawan.”
            “Usiamu masih muda dan kau kini menjabat sebagai wartawan dan penulis sekaligus. Sangat hebat, kawan!” Aku salut padanya. Yang dipuji hanya tertawa.
            “Oh ya, sepertinya kau suka tarian tadi. Jika mau aku bisa mengajakmu ke sanggar tempat para penari itu berlatih.”
            Entah mengapa darahku berdesir mendengar ajakannya. Teringat pada salah seorang penari tadi yang menyihirku menjadi lupa waktu.
            “Dengan senang hati.” Kataku mantap. Kami bertukar nomor whatsapp.

            Lima belas menit aku menunggu di halte. Kami sepakat untuk bertemu disini. Legi belum nampak batang hidungnya. Bau asap rokok tercium langsung olehku. Berasal dari lelaki tua dengan sekotak kardus dipangkuan. Entah apa isinya. Lelaki itu sekilas memperhatikan penampilanku. Terlihat sangat ingin menyapa namun khawatir salah ucap. Dalam hati ini berniat menegur namun khawatir si kakek tak paham.
            “Selamat pagi, tuan Ferdo. Maaf membuatmu menunggu. Orang barat memang selalu lebih tepat waktu ya.” Katanya kemudian tertawa.
            “Ah, tak apa. Banyak hal yang ku perhatikan selama menunggu. Menarik.”
            Kami menaiki bus kota menuju tempat yang kuharap disana berjumpa dengan gadis itu. Saat ini kusebut sajalah ia sang penari. Di perjalanan Legi menceritakan banyak hal. Segala sesuatu tentang negeri ini ia ceritakan. Sejarah, seni, budaya, dan bahasa menjadi topik utamanya.
            “Indonesia mempunyai lebih dari seribu bahasa daerah. Bayangkan tuan, lebih dari seribu! Tapi dari Sabang sampai Merauke kami berbahasa ibu hanya satu, tuan. Bahasa Indonesia. Yang menyatukan kami hingga saat ini.” Kata Legi dengan antusias dan obrolan kami berhenti karena Legi memberi isyarat kepadaku untuk turun. Kami sudah sampai.
            Kami memasuki gerbang kayu bertulisan ‘Sanggar Tresno’ diatasnya. Melewati jalan yang terdiri dari kumpulan batu alam. Rumput dan bunga di kanan-kiri menyambut kedatangan kami. Bangunan sanggar yang terbuat dari kayu jati yang dipernis membuat mataku tak bosan menatapi setiap guratan-guratan alami pada dindingnya.     
            “Selamat datang Tuan Koroskov.” Seorang wanita dengan setelan kebaya hijau muda tiba-tiba muncul dari balik pintu bangunan ini. Rambutnya disanggul besar memberi kesan bahwa ia adalah wanita bersahaja. Uban putih terlihat beberapa baris diantara rambut hitamnya. Tunggu, Bagaimana ia tahu namaku?
            “Ah, seharusnya kau tanyakan itu pada Legi. Legi yang memberitahu bahwa kau akan datang. Perkenalkan namaku Nyimas.” Wanita ini menangkap wajah heranku. Kami bersalaman. Logat jawanya tak bisa disembunyikan meskipun dengan bahasa Inggris.
            “Senang berjumpa dengan anda, nyonya Nyimas.”
            “Mari, silahkan masuk.”
            Perempuan itu menuntun kami ke ruang tamu di belakang. Ruang tamu seolah sengaja diposisikan demikian. Karena dari jendela di ruangan ini, aku bisa melihat sekelompok gadis sedang latihan menari. Aku mencari-cari sosok ‘sang penari’ namun tak kudapat dia diantara mereka.
            ”Nyonya. Siapakah gadis yang paling pandai menari diantara gadis-gadis yang lain?” Tanyaku lancang.
            “Mengapa tuan bertanya demikian?”
            Bodoh. Pertanyaan macam apa pula itu. Seperti tak ada pertanyaan yang lain saja.
            “Kalau berkenan, aku ingin mewawancarai gadis itu.” Alasan itu keluar dari mulutku secara spontan. Luar biasa.
            “Tunggu sebentar.”
            Perempuan itu meninggalkan ruang tamu. Legi terlihat sedang mangamati beberapa lukisan yang terpajang di ruang tamu. Semenjak kami tiba di tempat ini ia lebih banyak diam.
            “Hey bocah bandel, kenapa kau tak bilang kakak bahwa kau ingin kemari?”
            Sosok itu datang secara tiba-tiba. ‘Sang penari’ yang menyihirku menjadi lupa waktu.
            “Lebih baik aku bilang langsung ke Nyonya Nyimas daripada ke gadis galak seperti kakak. Pantas saja sampai saat ini tak ada lelaki yang mau dekat-dekat dengan kakak. Huh. Galak sekali macam....”
            “Macam apa....?”
            “Ah perkenalkan kak, ini tuan Ferdinand Koroskov dari Russia.”
            Tunggu, Jadi gadis ini? Gadis yang mengatur jeda kedipan mataku ini adalah kakak dari bocah ini? Gadis itu tertunduk malu setelah menyadari bahwa sejak tadi ada orang lain selain adiknya di ruangan ini, terlebih orang itu adalah bule.
            “Maaf Tuan, aku kelepasan. Perkenalkan namaku Puspita Sadewi. Panggil saja Dewi. Kakak dari bocah bandel yang bersama tuan saat ini.” Katanya dalam bahasa Inggris berlogat Jawa.
 Kejadian malam itu terulang kembali namun kali ini berlipat-lipat rasanya. Sentuhan tangannya yang menyalamiku terasa tak cukup sampai dikulit namun sampai ke jantung. Rasanya ingin melompat dan berteriak saja.


Sudah hampir lima jam aku menunggu di depan ruang operasi dengan was-was lagi penuh harap. Aku tidak bisa tenang. Aku sangat berharap operasinya  berhasil sehingga Marry bisa sembuh dan kembali seperti Marry yang ku kenal dulu. Marry yang periang. Yang selalu bisa membuatku tertawa disaat cemas sekalipun. Namun kali ini tak ada yang mampu menghilangkan rasa cemas ini. Pintu ruang operasi dibuka. Dengan cepat aku menghampiri dokter.
“Bagaimana operasinya dok?”
“Masuk ke dalam, dia membutuhkan dukunganmu.” Kata dokter itu dingin. Dengan gerakan secepat rusa aku masuk kedalam ruangan. Menghampiri kekasihku yang kini tergolek tak berdaya di atas kasur rumah sakit dengan berbagai macam alat bantu yang berusaha keras membuatnya agar tetap bisa bernafas.
“Ferdo, aku sudah tidak kuat lagi. Biarkan aku kalah. Kanker ini terlalu kuat. Bukankah mengalah itu tak berarti kalah?” Entah mengapa hati ini terasa perih mendengar kalimatnya barusan. Aku menangis.
“Sayang, pernikahan kita tinggal beberapa bulan lagi. Kamu harus bisa bertahan.”
“Tidak. Aku.. Aku berjanji sayang, akan mengirimkanmu seorang bidadari titisan dewi Venus  yang datang dari surga. Aku janji....... Dengarkan baik-baik Ferdo, aku jan...ji...”
Tangisku meledak. Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Marry. Aku tak paham betul maksudnya.   
Sejak saat itu hidupku tak bersemangat. Aku menjadi orang linglung. Tak tahu arah. Hingga akhirnya aku mencoba untuk bangkit. Melupakan segalanya dan mencoba membuka halaman baru. Aku pergi melancong ke berbagai negara di dunia untuk memperbaiki suasana hati.

Sudah hampir satu jam aku menunggu di depan ruang operasi dengan was-was lagi penuh harap. Aku tidak bisa tenang. Aku sangat berharap persalinannya berjalan dengan lancar. Pintu ruang persalinan dibuka. Dengan cepat aku menghampiri dokter. 
“Bagaimana persalinannya dok, berhasil?”
“Tengoklah kedalam, bayinya perempuan.” Kata dokter itu disertai senyuman ramah. Dengan gerakan secepat rusa aku masuk kedalam ruangan. Menghampiri istriku yang kini tergolek lemas diatas kasur rumah sakit. Meskipun demikian ia berusaha untuk tersenyum menyambut kedatanganku.

Pertemuanku dengan Dewi di sanggar Tresno membuatku tersadar bahwa Marry telah menepati janjinya. Dewi adalah sosok gadis jawa yang periang persis seperti Marry hanya dalam bentuk dan budaya yang berbeda. Dewi adalah gadis yang baik, ramah, namun tegas. Tepat seperti janji Marry, Dewi adalah titisan Venus. Sejak peristiwa disanggar, kami sering bertemu dari hanya sekedar berbincang seputar kebudayaan masyarakat Jawa sampai masalah pribadi. Aku mengajaknya untuk menikah ia terima dengan satu syarat. Ia tak ingin tinggal di Moskwa sana, cukup disini saja katanya, di tanah kelahirannya. Surga dunia. Indonesia.

Selasa, 18 Oktober 2016

Good Teacher is a Good Hero

If Superman was known by people as a hero who showed his bravery and extraordinary power to help citizen, a teacher was known and respected because his work to learn and educate their students. Many people want to be like Superman in their fantasy because he looked so cool and great. But they forgot the hero in real lief . We get Superman’s exceptional action in the movie or comic but  the teacher’s work is not fiction.  Superman overcome the citizen’s problem and a teacher moreover. A teacher can make personages: doctor, police, army, scientist, architect, and much more. 

                To be a teacher is a good wish. Becoming it is needed patience, carefulness, sincerity, and creativity. Patience in facing students, sincerity in transfering knowledges, and creativity in teaching. All of them makes you a good teacher perfectly. If you want to be a teacher actually you should have a special characteristic. Based on the character, teacher was divided into several categories:

                The first is a text book-teacher who always used the text book in every teaching. Whole of the utternce and expression of him/her is based on the text book.  Basically a teacher must have reference books as material of teaching. But, a teacher also must guard the students with explaining the material to make them perfectly understand.

                The second is a researcher teacher. We can find this one in mathematical and natural sciences class. The teacher’s talk and teaching based on scientific facts. Therefore, this teacher is easy to be received and understand by her/his students. If there is a student who have a cheat with his friend or make a copy-paste from internet automatically will be known by this teacher.

                The third is a fashionable teacher. This type of teacher  always tries to be perfect in front of students. This teacher usually wear the accessories as outfit to interest students and other teachers in the college or school. 

                The fourth is an invisible teacher. This type of teacher infrequently come into the class but he/she always give some assignments for students frequently. There are two reasons why the teacher come into the class infrequently. The first he/she has an other activities out of the class and the second is laziness. It is not a good example because students could not ask questions directly when they don’t understand about the material.

                The fifth is a killer teacher. This type of teacher is very firm in teaching and scoring. Usually this teacher has many rules for students. For example: Nobody go out of the class during lesson, nobody come late into the class, nobody talk with friends during the class, and so on. Students have no bravery to collide the rules because the punishment or anger.

                The sixth is a friendly teacher. This type is usually favourited by students. This teacher has a good communication and ability to approach students. He/she can make a pleasing situation in the class so that students enjoyed and pleased during lesson, example: make a joke among his/her expalanation of material.


                That’s all types of teacher based on character. Recently, a teacher should have a good and creative performance and always up to date with many things. Reading or searching many references makes the perfection. A good teacher is who can communicate with students well and have a knowledges more than them. If you can be a good teacher, you can be a good hero equally.

Puisi: Mengeluh?



Aku kagum kepadanya...
Yang mampu:

Tersenyum saat hati getir
Bangkit walau sedang lumpuh
Berteriak walau suara serak
Tertawa walau sedang rapuh
Berlari walau kaki sakit

Bernyanyi walau tak bisa bicara
Memandang walau tak bisa melihat
Mencoba mengerti walau tuli
Bermain walau tak ada yang mengajaknya main

Kepadanya
Aku tersenyum,
Aku menunduk malu

Masihkah ada kesempatan untukku
Untuk mengeluh
Hanya karena tugas-tugas kuliahku?






Bandung, 23 Maret 2016